Prambanan dalam Legenda dan Catatan Sejarah  

Candi Prambanan merupakan salah satu peninggalan sejarah terbesar di Indonesia yang hingga kini masih berdiri megah. Keindahan arsitektur dan nilai historisnya menjadikan kompleks candi ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1991 bersama Candi Borobudur. Di balik kemegahannya, Prambanan tidak hanya menyimpan jejak sejarah Kerajaan Mataram Kuno, tetapi juga legenda Roro Jonggrang yang telah hidup di tengah masyarakat selama berabad-abad.

Menariknya, legenda tersebut diyakini muncul jauh setelah Candi Prambanan tidak lagi menjadi pusat aktivitas kerajaan. Sekitar tahun 930 Masehi, kompleks candi ini mulai ditinggalkan seiring berpindahnya pusat Kerajaan Mataram ke Jawa Timur. Beberapa sejarawan mengaitkan perpindahan tersebut dengan letusan Gunung Merapi, sementara pendapat lain menyebut adanya konflik perebutan kekuasaan.

Akibat terbengkalai selama ratusan tahun, bangunan candi mengalami kerusakan dan sebagian runtuh akibat usia maupun gempa bumi. Ketika catatan sejarah mengenai pembangunannya perlahan terlupakan, masyarakat kemudian membangun berbagai cerita untuk menjelaskan asal-usul kompleks candi yang begitu megah. Dari sinilah legenda Roro Jonggrang dipercaya berkembang dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari tradisi lisan masyarakat Jawa.

Dalam legenda tersebut, Roro Jonggrang dikisahkan sebagai putri yang menolak lamaran Bandung Bondowoso karena sang pangeran telah membunuh ayahnya. Untuk menggagalkan pernikahan itu, ia mengajukan syarat agar Bandung Bondowoso membangun seribu candi hanya dalam satu malam.

Bandung Bondowoso kemudian meminta bantuan para jin untuk memenuhi syarat tersebut. Mengetahui pembangunan hampir selesai, Roro Jonggrang bersama para dayang menumbuk lesung dan menyalakan api agar ayam berkokok lebih awal. Merasa ditipu, Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca Dewi Durga Mahisasuramardini yang kini berada di ruang utama Candi Siwa.

Namun, benarkah Candi Prambanan dibangun dalam satu malam? Catatan sejarah menunjukkan jawaban yang berbeda. Berdasarkan penelitian terhadap Prasasti Siwagrha, kompleks Candi Prambanan dibangun secara bertahap pada masa pemerintahan Rakai Pikatan sekitar abad ke-9 Masehi. Dengan jumlah bangunan yang mencapai ratusan candi, para arkeolog meyakini proses pembangunannya berlangsung dalam waktu yang panjang dan melibatkan banyak tenaga kerja.

Menurut jurnal Peninggalan Candi Prambanan sebagai Bentuk Warisan Budaya dalam Penguatan Identitas Nasional karya Imelda Purnama dkk., Prasasti Siwagrha mencatat pembangunan candi dimulai sekitar tahun 850 Masehi. Angka tersebut diperkuat oleh penanggalan 778 Saka atau 856 Masehi yang tercantum dalam prasasti.

Dikutip dari jurnal Candi Prambanan Masa Kini karya Widhi Astuti, nama asli kompleks ini adalah Siwagrha yang berarti “Rumah Siwa”. Prambanan dibangun sebagai kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia dan menjadi simbol berkembangnya Kerajaan Mataram Kuno pada masa Wangsa Sanjaya. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, candi ini juga mencerminkan kemajuan arsitektur dan kebudayaan pada masanya.

Legenda Roro Jonggrang dan catatan sejarah memiliki perannya masing-masing. Legenda menjadi bagian dari warisan budaya yang hidup melalui cerita masyarakat, sedangkan sejarah menjelaskan asal-usul Prambanan berdasarkan prasasti dan temuan arkeologi. Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam memperkaya makna Candi Prambanan sebagai salah satu peninggalan budaya paling berharga di Indonesia.

Penulis: Mg_Nabila
Editor: Nurhasanah

Post Comment