Museum Multatuli, Jejak Perlawanan Kolonial yang Masih Tersimpan di Tanah Lebak
Museum Multatuli di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, menjadi salah satu ruang penting untuk mengenang sejarah perlawanan terhadap praktik kolonialisme di Indonesia. Diresmikan pada 11 Februari 2018, museum ini dikenal sebagai museum antikolonialisme pertama di Indonesia sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Nama Multatuli merupakan nama pena Eduard Douwes Dekker, Asisten Residen Lebak yang bertugas pada tahun 1856. Selama bertugas, Dekker menyaksikan langsung penderitaan masyarakat akibat penyalahgunaan kekuasaan dan sistem kolonial Belanda. Pengalaman tersebut kemudian dituangkannya dalam novel Max Havelaar, karya yang membuka mata dunia terhadap kondisi masyarakat Hindia Belanda pada masa itu.
Dalam jurnal Mengenal Museum Antikolonialisme Multatuli sebagai Daya Tarik Wisata bagi Generasi Muda di Kabupaten Lebak, Banten karya Roozana Maria Ritonga dan I Made Murdana dijelaskan bahwa Museum Multatuli dibangun sebagai ruang edukasi untuk memperkenalkan sejarah kolonialisme kepada masyarakat. Beragam koleksi, diorama, serta ruang pamer yang tersedia menjadi daya tarik wisata edukatif, terutama bagi generasi muda.
Sementara itu, jurnal Museum Multatuli sebagai Sumber Sejarah Lokal dalam Pembelajaran Design Thinking di Era Digital karya Andrian Jati Wasiso menjelaskan bahwa, museum ini juga berpotensi menjadi sumber pembelajaran sejarah lokal, yang mampu mendukung metode pembelajaran kreatif, seperti design thinking.
Bangunan Museum Multatuli pun memiliki nilai sejarah tersendiri. Gedung ini merupakan peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang selesai dibangun sekitar tahun 1930. Sebelum difungsikan sebagai museum, bangunan tersebut pernah menjadi Kantor Kawedanan, markas Hansip, hingga Kantor Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Lebak.
Kini, Museum Multatuli menjadi salah satu destinasi sejarah yang banyak dikunjungi di Kabupaten Lebak. Di balik bangunannya yang masih berdiri kokoh, tersimpan kisah tentang keberanian menyuarakan ketidakadilan dan perjuangan rakyat pada masa kolonial. Itulah yang menjadikan Museum Multatuli bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang untuk mengenang sejarah sekaligus belajar dari masa lalu.
Penulis: Mg_Hilwa
Editor: Nurhasanah



Post Comment