Di Balik Cokelat: Dari Minuman Suci Suku, Maya hingga Favorit Dunia

Setiap 7 Juli, dunia memperingati World Chocolate Day atau Hari Cokelat Sedunia. Tanggal tersebut dipilih untuk mengenang masuknya cokelat ke Eropa pada abad ke-16, yang kemudian menjadi awal penyebaran cokelat ke berbagai belahan dunia.

Menurut buku Manisnya Dunia Coklat karya Tesno Saras, sejarah cokelat bermula ribuan tahun lalu di kawasan Amerika Tengah, khususnya wilayah yang kini menjadi bagian dari Meksiko. Pada masa peradaban Maya dan Aztec, biji kakao tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan, tetapi juga digunakan dalam upacara adat dan ritual keagamaan. Biji kakao diolah menjadi minuman pahit bernama xocoatl yang memiliki nilai simbolis dan sosial yang tinggi.

Perjalanan cokelat menuju Eropa dimulai setelah pelayaran Christopher Columbus ke Benua Amerika pada tahun 1492. Saat itu, biji kakao memang telah dibawa ke Eropa, tetapi belum mendapat perhatian yang berarti. Popularitas cokelat baru meningkat pada abad ke-16 ketika bangsa Spanyol mulai memperkenalkan minuman cokelat ke berbagai negara di Eropa.

Seiring waktu, cokelat semakin digemari. Pada abad ke-17, minuman cokelat menjadi favorit di lingkungan istana Raja Louis XIV di Prancis. Memasuki abad ke-18, perkembangan teknologi pengolahan membuat produksi cokelat menjadi lebih efisien sehingga konsumsi cokelat tidak lagi terbatas pada kalangan bangsawan, tetapi mulai dinikmati masyarakat luas.

Perkembangan terbesar terjadi pada abad ke-19 melalui inovasi pemisahan lemak kakao dari bubuk kakao. Penemuan tersebut membuka jalan bagi lahirnya cokelat padat yang kini dikenal luas. Kehadiran mesin penggiling dan mesin pencetak juga meningkatkan kapasitas produksi sehingga cokelat dapat diolah menjadi permen, makanan penutup, hingga berbagai produk olahan lainnya.

Memasuki era modern, industri cokelat berkembang pesat dengan hadirnya berbagai perusahaan yang memproduksi cokelat dalam skala besar. Kini, cokelat hadir dalam beragam bentuk, mulai dari cokelat batangan, minuman, kue, hingga aneka makanan penutup yang digemari masyarakat di berbagai negara.

Di balik rasanya yang manis, proses pembuatan cokelat juga menentukan kualitas produk akhirnya. Menurut jurnal Pengaruh Proses Conching terhadap Sifat Fungsional Cokelat karya Muhammad Rifqi, cokelat yang berasal dari biji Theobroma cacao L. mengandung polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan. Kualitas cokelat dipengaruhi oleh setiap tahapan pengolahan, mulai dari fermentasi, pengeringan, penyangraian, hingga penggilingan menjadi pasta kakao (cocoa liquor) yang menjadi bahan dasar berbagai produk cokelat.

Dari minuman pahit yang digunakan dalam ritual suku Maya hingga menjadi camilan favorit masyarakat dunia, perjalanan cokelat menunjukkan bagaimana sebuah warisan budaya dapat terus berkembang mengikuti zaman. Tak heran jika hingga kini, cokelat tetap menjadi salah satu makanan yang paling digemari, di berbagai belahan dunia.

 

Penulis: Mg_Eva Devitasari

Editor: Nurhasanah

Post Comment