Langit yang Begitu Terang, Badai yang Penuh Amarah
Tulisan yang dikirim oleh M. Akhlisir Rusydi – Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
Ia memeluk badai
yang bergemuruh di dalam dada.
Amarah
yang lama disimpannya
perlahan larut
bersama malam
yang mengantarnya pulang
ke pelataran rindu.
Yang tersisa
hanyalah kekuatan
dan serpih-serpih pengkhianatan
yang pernah mengajarinya
enggan bertumbuh lagi.
Ia pernah percaya
bahwa luka
selalu lebih besar
daripada harapan.
Namun,
di sudut dirinya,
seorang anak kecil
mengulurkan tangan.
Mengajaknya menari,
berbisik pelan,
bahwa hidup
masih layak dirayakan,
dan menyerah
belum waktunya.
Anak itu
masih menyimpan mimpi:
menjadi putri
dengan lima kuda putih,
berjalan
di taman bunga daisy,
meniup lilin
di atas kue cokelat
berbentuk hati,
lalu melepas
balon warna-warni
agar terbang
bersama burung-burung merpati
ke langit selatan.
Kini
ia kembali.
Bukan untuk mengulang luka,
melainkan merayakan keberanian
yang lahir dari kegelisahan.
Untuk pertama kalinya
ia menatap dirinya sendiri
tanpa rasa takut.
Lalu tersenyum.
Sebab ia tahu,
setelah badai
yang begitu marah,
selalu ada langit
yang begitu terang.
Penulis: Mg_Via
Editor: Saroh



Post Comment