Mengenal Doomscrolling: Kebiasaan Digital yang Memicu Brain Rot dan Anxiety pada Remaja
Sebagai generasi yang tumbuh bersama media sosial, remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap berbagai informasi. Tanpa disadari, banyak dari kita menghabiskan waktu berjam-jam menggulir layar smartphone untuk membaca berita atau melihat konten di media sosial, bahkan ketika informasi tersebut bernuansa negatif. Kebiasaan inilah yang dikenal sebagai doomscrolling.
Doomscrolling adalah perilaku terus-menerus membaca atau menggulir konten negatif, seperti berita bencana, konflik, kriminalitas, krisis sosial, hingga isu lain yang memicu rasa khawatir, cemas, atau sedih. Sekilas terlihat seperti mencari informasi, tetapi jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini dapat berdampak pada kesehatan mental.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Asosiatif menjelaskan bahwa doomscrolling merupakan bentuk baru ketergantungan digital yang banyak terjadi pada masyarakat modern, terutama generasi muda. Perilaku ini bahkan dikaitkan dengan brain rot, yaitu kondisi menurunnya kemampuan berpikir dan emosional akibat terlalu sering mengonsumsi konten digital yang bernilai rendah.
Paparan berita negatif secara berulang juga dapat memicu anxiety atau gangguan kecemasan. Penelitian Fahmi Aditya Firmansyah dan Vania Ardelia menunjukkan bahwa individu yang sulit menghadapi ketidakpastian cenderung terus mencari informasi untuk memperoleh rasa aman. Ironisnya, kebiasaan tersebut justru meningkatkan kecemasan sehingga mendorong seseorang untuk kembali mengakses konten negatif dan terjebak dalam siklus doomscrolling.
Lantas, mengapa doomscrolling begitu mudah terjadi? Secara psikologis, manusia memiliki negativity bias, yaitu kecenderungan otak untuk lebih peka terhadap informasi negatif sebagai mekanisme bertahan hidup. Saat menerima berita yang mengkhawatirkan, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol sehingga seseorang terdorong untuk terus mencari informasi baru demi memastikan keadaan di sekitarnya.
Selain itu, kebiasaan ini juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat stres yang tinggi, rasa kesepian, hingga Fear of Missing Out (FOMO). Keinginan untuk selalu mengikuti berita maupun tren terbaru membuat banyak orang terus membuka media sosial, meskipun informasi yang dikonsumsi justru memperburuk kondisi psikologisnya.
Menurut Harvard Health, doomscrolling dapat dikurangi dengan menerapkan batasan dalam penggunaan gawai. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan, antara lain:
1. Membatasi waktu penggunaan media sosial setiap hari.
2. Mematikan notifikasi yang tidak penting.
3. Tidak meletakkan ponsel di samping tempat tidur.
4. Menghindari konten yang memicu kecemasan atau stres berlebihan.
5. Mengalihkan perhatian ke aktivitas lain, seperti berolahraga, membaca buku, atau berbincang dengan keluarga dan teman.
6. Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila doomscrolling mulai mengganggu aktivitas sehari-hari maupun kesehatan mental.
Bagi mahasiswa dan remaja, kebiasaan doomscrolling dapat menurunkan konsentrasi, mengganggu produktivitas, serta memicu stres dan emosi yang tidak stabil. Karena itu, penting untuk lebih bijak dalam memilih informasi yang dikonsumsi. Media sosial memang dapat menjadi sumber pengetahuan, tetapi penggunaannya tetap perlu dikendalikan agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan mental.
Penulis: Mg_Lis Harmoni
Editor: Naufal



Post Comment