Sementara Bernama Manusia
Kutemui hidup dalam rupa seorang musafir,
yang duduk ditemani sunyi,
di sebuah waktu yang bernama dunia.
Di singgahinya kota-kota bernama bahagia.
Lalu bermalam di penginapan bernama duka.
Kemudian menyepi, di ruang bernama manusia.
Tak ada yang benar-benar dimiliki,
selain langkah yang terus belajar menerima.
Kehidupan bukan sungai yang selalu tenang.
Kadang ia menjadi ombak,
yang memaksa kita belajar berenang.
Kadang ia hanya genangan,
namun cukup untuk memantulkan cahaya ke langit.
Hari demi hari, kulihat musafir itu terus berjalan.
Tak lagi mengejar ujung jalan,
melainkan belajar menikmati setiap persinggahan.
Hingga suatu senja, ketika jalan tak lagi memanjang,
musafir itu menoleh, bukan padaku.
Melainkan kepada seluruh perjalanan
yang telah membentuknya.
Saat itulah kusadari, yang usai bukanlah langkah.
Melainkan waktu, yang setia menemaninya berjalan.
Dan ketika dunia tak lagi memanggil namanya,
yang tertinggal hanyalah jejak, dan sebuah nama
yang pernah disebut manusia.
Penulis: Mg_Nazwa Aulia
Editor: Hida



Post Comment