Rumah yang Tak Lagi Hangat

Aku adalah anak perempuan pertama,
yang tumbuh terlalu cepat
di rumah yang perlahan kehilangan pelukannya.

Dulu, rumah adalah tempat pulang.
Kini, ia hanya bangunan,
yang dipenuhi suara,
yang tak lagi menghadirkan tenang.

Aku belajar tersenyum
di tengah meja makan yang sunyi,
belajar menguatkan diri
saat tak ada lagi tempat untuk bercerita.

Sebagai anak pertama,
yang katanya harus mengerti,
ada tetesan air mata di balik kalimat,
“Aku tidak apa-apa.”

Tak ada yang bertanya seberapa lelah pundakku,
karena semua mengira aku memang diciptakan untuk kuat.

Rumah yang dulu mengajarkan cinta,
kini mengajarkan cara bertahan.
Bukan karena temboknya runtuh,
melainkan karena hangatnya perlahan menghilang.

Aku melangkah pulang,
meski tak lagi menemukan rasa yang sama.
Karena terkadang,
yang paling dirindukan dari sebuah rumah bukanlah tempatnya,
melainkan perasaan diterima tanpa harus selalu menjadi yang paling tegar.

Dan jika suatu hari aku pergi,
bukan karena berhenti mencintai rumah ini,
melainkan karena aku sedang mencari tempat yang akhirnya membuatku merasa pulang.

Penulis: Mg_Najah
Editor: Hida

Post Comment