Riwayat Runtuhnya Rasa
Tulisan yang dikirim oleh:
Nely Muharromah – Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
Di ujung jemari yang tak pernah diam berkelana, kita perlahan lupa cara menjadi manusia.
Menatap layar yang berkilau penuh warna, namun membiarkan jiwa sendiri merana dalam hampa.
Kilau digital itu perlahan meracuni isi kepala, mengikis rasa malu yang dulu dijaga mulia.
Kini, demi riuh tepuk tangan yang fana, harga diri rela digadaikan tanpa rasa cela.
Saat rasa malu sudah tak lagi punya ruang, tata krama dan sopan santun ikut terbuang.
Kata-kata manis menjelma menjadi pedang, saling menikam demi ego yang ingin menang.
Tikaman kata itu kemudian melahirkan ketakutan, membuat manusia menutup mata dari kenyataan.
Empati mati, digantikan oleh keangkuhan, melihat sesama jatuh justru menjadi tontonan.
Tontonan duka itu lalu dikemas menjadi konten berbayar, tempat keikhlasan dan ketulusan perlahan pudar. Sedekah dihitung, air mata dipaksa agar pasar mengejar, membuat batasan antara suci dan palsu kian samar.
Kesamaran ini akhirnya melahirkan generasi yang linglung, anak-anak muda yang kehilangan arah untuk beralih dan bernaung.
Nasihat orang tua dianggap angin lalu yang berdengung, sementara fatwa orang asing di internet dipuja setinggi gunung.
Gunung ego itu kian menjulang menutupi langit yang bersih, membuat hati kita membatu, enggan berbagi rasa sedih.
Rumah ibadah megah berdiri di tengah riuh yang letih, namun di dalamnya, manusia masih saling menghakimi dengan rasis dan pilih-pilih.
Hingga kapankah rantai kegetiran ini akan terus memanjang?
Menyeret moral bangsa ke jurang gelap yang gersang.
Sebelum sisa kemanusiaan kita benar-benar hilang, mari matikan layar, dan jemput nurani yang sempat terbuang.



Post Comment