Ketika Perilaku Konsumtif Dibungkus dengan Istilah Self-Reward

Belakangan ini, istilah self-reward semakin akrab dengan kehidupan sehari-hari. Setelah menyelesaikan pekerjaan, mencapai target tertentu, atau setelah melewati hari yang melelahkan, membeli sesuatu sering dianggap sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri. Namun, ketika hampir setiap keinginan selalu dibenarkan atas nama self-reward, apakah masih dimaknai sebagai bentuk apresiasi terhadap diri, atau perlahan bergeser menjadi pembenaran atas perilaku konsumtif?

Fenomena tersebut sejalan dengan jurnal “Implikasi Budaya Self-Reward terhadap Konsumtivitas: Studi Kasus Gen-Z” karya Giovanny Anggasta, dkk., bahwa self-reward dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri yang mampu meningkatkan motivasi dan membantu mengelola stres. Namun, ketika dilakukan tanpa pengendalian diri, praktik tersebut justru berpotensi mendorong perilaku konsumtif, terutama di kalangan Generasi Z.

Persoalannya, pergeseran makna self-reward sering kali tidak disadari. Apresiasi terhadap diri yang seharusnya menjadi bentuk penghargaan atas usaha yang telah dilakukan perlahan berubah menjadi alasan untuk memenuhi berbagai keinginan. Tidak sedikit orang yang merasa setiap pencapaian, rasa lelah, atau tekanan emosional harus “dibayar” dengan membeli atau mengonsumsi sesuatu. Akibatnya, batas antara kebutuhan dan keinginan akan semakin sulit dibedakan, sementara perilaku konsumtif mulai dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Kondisi tersebut diperkuat dalam jurnal “Pengaruh Harga Diri dan Gaya Hidup terhadap Perilaku Konsumtif” karya Yarian Alamanda, menunjukkan bahwa gaya hidup memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan seseorang dalam mengonsumsi barang maupun jasa tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan, tetapi juga oleh gaya hidup yang dijalani.

Persoalan utamanya bukan terletak pada konsep self-reward, melainkan pada cara kita memaknainya. Ketika istilah tersebut terus digunakan untuk membenarkan setiap keinginan, self-reward perlahan kehilangan esensinya sebagai bentuk penghargaan terhadap diri.

Pada akhirnya, self-reward seharusnya menjadi bentuk apresiasi terhadap diri, bukan pembenaran atas setiap keinginan. Mengapresiasi diri tidak selalu harus diwujudkan dengan membeli sesuatu, tetapi juga melalui kemampuan memahami kebutuhan, mengendalikan keinginan, serta mengambil keputusan secara bijak. Dengan demikian, self-reward tetap dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap diri sendiri tanpa kehilangan makna utamanya.

Penulis: Mg_Nasya
Editor: Diroya

Post Comment