Recycled Toxin: Mengapa Kantong Plastik Hitam Tidak Layak Menyentuh Makanan Kita?
SiGMAnia, pernahkah kamu membeli gorengan, bakso, atau makanan hangat lainnya dan langsung dibungkus rapi dengan kantong plastik hitam? Atau mungkin kamu merasa hal tersebut adalah hal yang biasa karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari di sekitar kita? Jika iya, kamu perlu lebih waspada mulai sekarang.
Kantong plastik hitam atau yang sering kita sebut kresek hitam sebenarnya merupakan produk hasil daur ulang dari berbagai jenis limbah plastik. Karena berasal dari limbah campuran yang tidak jelas asalnya, proses pembuatannya membutuhkan berbagai bahan kimia tambahan agar plastik menjadi lentur dan berwarna gelap merata.
Dikutip dari jurnal “Perilaku Konsumen dalam Penggunaan Plastik Kresek Hitam Daur Ulang sebagai Wadah Makanan Siap Santap di Pusat Pasar Tavip Binjai” karya Ervina Damanik, menjelaskan bahwa kantong plastik hitam daur ulang mengandung zat pemlastis (plasticizer) seperti dioctyl phthalate (DOP) serta bahan pewarna kimia yang berpotensi racun. Ketika kantong plastik ini bersentuhan langsung dengan makanan, terutama yang bersuhu panas, berlemak, atau bersifat asam, zat kimia berbahaya tersebut dapat dengan mudah mengalami migrasi ke dalam makanan. Zat DOP ini dikenal memiliki sifat karsinogenik yang dalam jangka panjang dapat memicu pertumbuhan sel kanker.
Selain itu, menurut jurnal “Aspek Hukum Bahaya Plastik terhadap Kesehatan dan Lingkungan serta Solusinya”, karya Yusma Dewi, menjelaskan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebenarnya telah menerbitkan peringatan resmi mengenai bahaya kantong plastik daur ulang untuk kemasan pangan.
Penggunaan wadah non-food grade ini jelas melanggar hak-hak konsumen yang dilindungi dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pasal 4 dalam undang-undang tersebut menyatakan bahwa konsumen berhak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang atau jasa.
Lantas, apa saja alasan utama mengapa kantong plastik hitam sangat tidak layak menyentuh makanan kita? Berikut beberapa di antaranya:
- Berasal dari limbah tidak higienis: Proses daur ulang sering kali melibatkan limbah plastik bekas wadah pestisida hingga limbah kimia.
- Mudah mengalami migrasi zat kimia: Suhu panas dan kandungan minyak pada makanan mempercepat pelepasan zat karsinogenik ke dalam makanan.
- Mengandung zat pewarna beracun: Warna hitam pekat digunakan untuk menutupi kotoran bahan daur ulang, sebab pigmen warnanya mengandung logam berat.
- Bukan standar food grade: Tidak memenuhi kriteria keamanan kemasan pangan yang ditetapkan oleh regulasi pemerintah dan BPOM.
Lalu, bagaimana cara kita menghindari bahaya ini dalam kehidupan sehari-hari? Berdasarkan rekomendasi ahli kesehatan dan hukum konsumen, beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Membawa wadah sendiri: Biasakan membawa tempat makan (bekal) stainless steel atau kaca saat membeli makanan hangat.
- Menolak pembungkusan langsung: Mintalah pedagang untuk tidak menaruh makanan panas langsung di atas kantong plastik hitam.
- Menggunakan pembungkus alami: Prioritaskan penggunaan daun pisang, kertas minyak food grade, atau wadah plastik bening yang berlabel aman (BPA-free).
- Edukasi orang sekitar: Mulai ingatkan keluarga dan teman tentang bahaya laten plastik daur ulang bagi kesehatan jangka panjang.
Menjaga kepraktisan memang penting, tetapi kesehatan tubuh jauh lebih berharga. Mengganti kebiasaan kecil dalam memilih wadah makanan adalah langkah nyata untuk melindungi diri dan keluarga dari ancaman bahaya yang tidak terlihat.
Penulis: Mg_Aida
Editor: Naufal



Post Comment