Bekam di Era Kedokteran Modern: Kenapa Masih Diminati?

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kedokteran, bekam masih menjadi salah satu terapi tradisional yang diminati masyarakat Indonesia. Terapi yang identik dengan penggunaan cangkir hisap dan sayatan ringan pada permukaan kulit ini, tetap bertahan sebagai pengobatan komplementer di tengah kemajuan dunia medis.

Bekam merupakan praktik pengobatan tradisional yang telah dikenal sejak ribuan tahun lalu di Mesir, Tiongkok, dan Timur Tengah. Berdasarkan catatan Papyrus Ebers, salah satu naskah kedokteran tertua di dunia, terapi ini telah digunakan di Mesir sekitar 1550 SM untuk membantu mengatasi berbagai gangguan kesehatan.

Dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi berjudul Terapi Bekam (Hijamah): Tinjauan Literatur dari Perspektif Medis dan Keislaman karya Al Maududi, Khamelia, dan Purwanti, dijelaskan bahwa bekam atau hijamah merupakan teknik pengobatan dengan memanfaatkan tekanan hisap untuk membantu mengeluarkan darah melalui permukaan kulit. Istilah hijamah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “mengeluarkan darah dari dalam tubuh”. Secara umum, terapi ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu bekam kering yang dilakukan tanpa sayatan dan bekam basah yang diawali dengan sayatan ringan pada kulit.

Di tengah perkembangan dunia medis, eksistensi bekam tidak lantas memudar. Penelitian Ikhwan dkk. menunjukkan bahwa kemajuan teknologi pengobatan tidak mengurangi minat masyarakat terhadap bekam sebagai terapi komplementer. Temuan serupa juga disampaikan Damayanti dkk. dalam penelitian Profil Penggunaan Terapi Bekam di Kabupaten/Kota Bandung Ditinjau dari Aspek Demografi, Riwayat Penyakit, dan Profil Hematologi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa terapi bekam paling banyak digunakan oleh kelompok usia 20–29 tahun. Dari sisi ekonomi, terapi ini juga banyak dimanfaatkan oleh masyarakat dengan pendapatan Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan.

Lantas, apa yang membuat bekam masih bertahan hingga sekarang? Salah satu jawabannya terdapat dalam Jurnal Penelitian Perawat Profesional karya Suharmanto. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa hisapan pada cangkir bekam dapat merangsang aliran darah lokal dan membantu meningkatkan sirkulasi darah di bawah permukaan kulit. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa terapi ini berpotensi membantu mengurangi peradangan serta meredakan beberapa keluhan kesehatan tertentu.

Manfaat bekam juga didukung oleh sejumlah penelitian klinis. Salah satunya menunjukkan bahwa bekam basah berpotensi membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi tanpa menimbulkan efek samping yang serius. Selain itu, systematic review dan meta-analysis yang dilakukan Zhang et al. (2024), sebagaimana dikutip dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi, menyebutkan bahwa terapi bekam dapat menurunkan intensitas nyeri serta tingkat disabilitas pada pasien dengan nyeri punggung bawah.

Bagi umat Islam, bekam juga memiliki nilai spiritual. Dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi karya Al Maududi dkk. dijelaskan bahwa bekam merupakan bagian dari Thibbun Nabawi, yaitu konsep pengobatan yang bersumber dari ajaran Rasulullah SAW. Sejumlah hadis sahih juga menyebutkan bekam sebagai salah satu metode pengobatan yang dianjurkan. Meski demikian, bekam tetap diposisikan sebagai pengobatan komplementer yang sebaiknya dilakukan berdampingan dengan penanganan medis sesuai kondisi pasien.

Di balik berbagai persepsi yang berkembang, bekam bukan sekadar terapi tradisional yang identik dengan proses mengeluarkan darah. Terapi ini memiliki sejarah panjang dan telah menjadi objek berbagai penelitian ilmiah. Meski demikian, masyarakat tetap perlu memahami manfaat dan keterbatasannya berdasarkan bukti ilmiah serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menjadikan bekam sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan.

Penulis: Mg_Hani
Editor: Naufal

Post Comment